Di balik senyum tenang dan tutur katanya yang lembut, tersimpan perjalanan panjang seorang imam yang tidak pernah bercita-cita menjadi uskup. Ketika kabar penunjukannya datang dari Vatikan pada 6 Maret 2021, Pastor Fransiskus Tuaman Sasfo Sinaga justru diliputi kegelisahan. Di hadapan Tuhan ia merasa kecil, rapuh, dan tidak layak menerima tugas sebesar itu.
Dalam berbagai kesempatan ia mengisahkan bahwa saat menerima kabar tersebut dari Nunsius Apostolik untuk Indonesia, Mgr. Piero Pioppo, pikirannya seolah kosong. Dalam perjalanan pulang ia menangis. Bukan karena bahagia, melainkan karena menyadari beratnya tanggung jawab menggembalakan umat Allah. Ia hanya mampu berdoa, “Tuhan, begitu besarnya tugas ini.” Namun akhirnya, dengan penuh iman, ia menyerahkan diri sepenuhnya kepada kehendak Tuhan.
.

Sikap rendah hati itulah yang kemudian menjadi ciri khas pelayanannya hingga kini sebagai Uskup Keuskupan Sibolga.
.
Anak Kampung yang Bertumbuh dalam Iman
Mgr. Fransiskus Tuaman Sasfo Sinaga lahir di Penggalangan, Serdang Bedagai, Sumatera Utara, pada 22 November 1972. Ia merupakan anak ketujuh dari sepuluh bersaudara dalam keluarga sederhana yang menanamkan nilai iman, kerja keras, dan kesederhanaan sejak kecil.
Masa kanak-kanaknya dihabiskan di Penggalangan dan Tebing Tinggi. Di lingkungan Gereja Stasi Santo Ignatius Penggalangan, Paroki Santo Yosef Tebing Tinggi, benih panggilan imamat mulai bertumbuh. Kehidupan menggereja yang sederhana justru menjadi sekolah pertama yang membentuk kepekaannya terhadap pelayanan.
Setelah menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah di Tebing Tinggi, ia melanjutkan pendidikan di Seminari Menengah Christus Sacerdos Pematangsiantar, menjalani Tahun Orientasi Rohani di Sinaksak, lalu menempuh studi filsafat dan teologi di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi Santo Yohanes Pematangsiantar.
.
Memilih Jalan Pelayanan
Pada 14 Februari 2003 ia ditahbiskan menjadi imam Diosesan Keuskupan Sibolga oleh Mgr. Anicetus Bongsu Antonius Sinaga, OFMCap.
Sebagian besar karya pastoralnya dijalani di Kepulauan Nias. Ia pernah menjadi pastor rekan dan pastor kepala di Paroki Santa Maria Bunda Para Bangsa Gunungsitoli, kemudian dipercaya menjadi formator Seminari Menengah Santo Petrus Aek Tolang.
Kepercayaan Gereja kepadanya terus bertambah. Tahun 2007 ia dikirim ke Roma untuk mendalami Teologi Moral di Universitas Kepausan Urbaniana dan memperoleh gelar Licensiat. Sepulang dari Italia, ia kembali mengabdikan diri di Nias sebelum kemudian dipercaya menjadi Rektor sekaligus Ketua Sekolah Tinggi Pastoral Dian Mandala Gunungsitoli.
Selain berkarya di bidang pendidikan imam dan katekis, ia juga aktif sebagai Ketua UNIO Keuskupan Sibolga dan Direktur Karya Kepausan Keuskupan Sibolga.
Menjadi Uskup Pertama dari Kalangan Imam Diosesan
Keuskupan Sibolga memiliki sejarah panjang yang erat dengan para uskup dari Ordo Kapusin. Karena itu, ketika Paus Fransiskus menunjuk Pastor Fransiskus Tuaman Sasfo Sinaga sebagai Uskup Sibolga pada 6 Maret 2021, penunjukan tersebut menjadi sebuah tonggak sejarah.
Ia menjadi uskup ketiga Keuskupan Sibolga sekaligus uskup pertama yang berasal dari imam diosesan (projo) keuskupan itu sendiri. Sebelumnya, Keuskupan Sibolga dipimpin oleh Mgr. Anicetus Bongsu Antonius Sinaga, OFMCap dan Mgr. Ludovikus Simanullang, OFMCap.
Tahbisan episkopalnya berlangsung pada 29 Juli 2021 di Katedral Santa Theresia Lisieux Sibolga. Pandemi COVID-19 membuat perayaan berlangsung sederhana dengan jumlah peserta yang terbatas, namun sukacita umat tetap terasa mendalam.
Ia menerima tahbisan uskup dari Ignatius Kardinal Suharyo dengan moto episkopal **Lauderis Domine Deus Meus**, yang berarti **”Semoga Engkau dipuji, ya Tuhanku dan Allahku.”** Moto tersebut mencerminkan spiritualitas yang selalu mengarahkan segala karya kepada kemuliaan Tuhan.
Pemimpin yang Berangkat dari Kerendahan Hati
Bagi Mgr. Fransiskus, menjadi uskup bukanlah sebuah kehormatan, melainkan panggilan untuk melayani.
Ia pernah mengatakan bahwa dirinya merasa tidak pantas menerima tugas itu. Justru karena kesadaran akan kelemahan manusiawi itulah ia memilih menyerahkan seluruh hidupnya kepada Tuhan.
Kerendahan hati tersebut tampak dalam gaya kepemimpinannya. Ia dikenal dekat dengan imam, religius, kaum muda, para katekis, dan umat di pelosok-pelosok Nias maupun pesisir barat Sumatera. Pengalaman panjang sebagai pastor paroki, pendidik, dan formator membuatnya memahami kehidupan umat dari akar rumput.
Sebagai seorang moralis, ia juga dikenal memiliki perhatian besar terhadap pembinaan iman, pendidikan calon pelayan Gereja, dan penguatan kehidupan keluarga Kristiani.
Putra Penggalangan yang Membanggakan
Namun bagi Mgr. Fransiskus sendiri, perjalanan itu bukanlah kisah tentang keberhasilan pribadi. Baginya, semua bermula dari sebuah desa kecil, keluarga sederhana, dan panggilan Tuhan yang dijawab dengan kesediaan untuk melayani.
Dari Penggalangan menuju Sibolga, dari seorang pastor yang merasa tidak layak menjadi uskup yang kini menggembalakan ribuan umat, kisah hidup Mgr. Fransiskus Tuaman Sasfo Sinaga menjadi pengingat bahwa Allah sering memilih orang-orang yang rendah hati untuk melaksanakan karya-karya besar-Nya.







