Sinode III Keuskupan Sibolga menjadi tonggak penting dalam perjalanan Gereja di wilayah pantai barat Sumatera dan Kepulauan Nias. Setelah melalui proses panjang yang melibatkan umat mulai dari tingkat Komunitas Basis Gerejani (KBG), paroki, hingga keuskupan, para peserta sinode akhirnya menetapkan arah pastoral yang akan menjadi pedoman bersama bagi seluruh Gereja Keuskupan Sibolga selama lima tahun ke depan.
Rumusan visi dan misi tersebut lahir dalam sidang pleno hari terakhir Sinode III yang berlangsung di Gunungsitoli pada 18 Oktober 2024. Proses penyusunannya bukan sekadar merancang slogan, melainkan buah dari refleksi bersama atas situasi nyata Gereja, evaluasi pelaksanaan Sinode sebelumnya, penelitian pastoral, serta diskusi mengenai berbagai tantangan yang dihadapi umat di lima bidang kehidupan Gereja: liturgi, pewartaan, persekutuan, pelayanan, dan kesaksian.
Berakar dalam Iman
Visi yang disepakati berbunyi:
“Gereja Keuskupan Sibolga yang berakar dalam iman, bertumbuh dalam persekutuan, dan berbuah dalam kesaksian.”
Visi ini menggambarkan tiga tahap pertumbuhan Gereja yang saling berkaitan.
Berakar dalam iman berarti seluruh kehidupan umat dibangun di atas relasi yang semakin mendalam dengan Kristus. Iman tidak berhenti pada pengetahuan atau praktik keagamaan semata, tetapi menjadi dasar dalam mengambil keputusan, membangun keluarga, bekerja, dan hidup bermasyarakat.
Iman yang kokoh kemudian melahirkan persekutuan. Gereja dipanggil menjadi komunitas yang saling mendukung, berjalan bersama (sinodal), dan menghargai setiap anggota sebagai bagian dari Tubuh Kristus. Persekutuan ini diwujudkan melalui kehidupan Komunitas Basis Gerejani, lingkungan, kelompok kategorial, maupun kerja sama antarparoki.
Buah akhirnya adalah kesaksian. Gereja tidak hanya hidup bagi dirinya sendiri, tetapi hadir membawa terang Kristus melalui pelayanan, solidaritas, dialog, serta keterlibatan aktif dalam kehidupan masyarakat. Dengan demikian, iman yang hidup akan menghasilkan tindakan nyata yang membawa harapan bagi sesama.
Empat Misi Pastoral
Untuk mewujudkan visi tersebut, Sinode III merumuskan empat misi utama yang akan menjadi fokus pelayanan pastoral Keuskupan Sibolga.
1. Menguatkan Iman melalui Keluarga dan Pewartaan
Misi pertama adalah meningkatkan iman kekatolikan melalui pastoral keluarga yang berkelanjutan dan pewartaan yang kontekstual.
Sinode menempatkan keluarga sebagai tempat pertama pewarisan iman. Karena itu, pembinaan keluarga, pendampingan pasangan suami-istri, pendidikan iman anak dan kaum muda, serta pewartaan yang mampu menjawab tantangan zaman menjadi prioritas utama.
Di tengah perubahan sosial dan perkembangan teknologi digital, Gereja dipanggil menghadirkan pewartaan yang relevan tanpa kehilangan kekayaan ajaran iman Katolik.
2. Memperkuat Persekutuan Umat
Misi kedua adalah meningkatkan persekutuan umat dalam komunitas basis teritorial dan kategorial.
Keuskupan Sibolga melihat Komunitas Basis Gerejani (KBG) sebagai jantung kehidupan pastoral. Karena itu, penguatan komunitas-komunitas kecil menjadi salah satu strategi utama agar umat semakin mengenal satu sama lain, bertumbuh dalam doa bersama, pendalaman Kitab Suci, dan pelayanan sosial.
Selain komunitas berbasis wilayah, kelompok kategorial seperti kaum muda, keluarga, profesional, dan kelompok kerasulan juga didorong menjadi ruang pembinaan iman yang hidup.
3. Menjadi Gereja yang Berpihak kepada Kaum Lemah
Misi ketiga adalah mewujudkan aksi-aksi solidaritas bagi kaum lemah dan terpinggirkan.
Pilihan pastoral ini menegaskan bahwa Gereja Keuskupan Sibolga ingin semakin menghadirkan wajah Kristus yang penuh belas kasih. Pelayanan kepada orang miskin, mereka yang sakit, penyandang disabilitas, korban bencana, serta kelompok yang mengalami berbagai bentuk ketidakadilan dipandang sebagai bagian tak terpisahkan dari tugas pewartaan Injil.
Kesaksian Gereja diwujudkan bukan hanya melalui kata-kata, tetapi melalui tindakan nyata yang membela martabat manusia.
4. Terlibat Aktif dalam Kehidupan Masyarakat
Misi keempat adalah meningkatkan keterlibatan umat Katolik dalam tatanan hidup bermasyarakat melalui pastoral politik.
Pastoral politik yang dimaksud bukanlah dukungan kepada partai politik tertentu, melainkan pembinaan umat agar mampu menghidupi nilai-nilai Injil dalam kehidupan sosial, kebangsaan, dan demokrasi.
Melalui pendidikan politik yang sehat, Gereja berharap umat semakin berani memperjuangkan keadilan, kejujuran, perdamaian, serta kesejahteraan bersama dalam berbagai bidang kehidupan publik.
Strategi Pastoral Lima Tahun
Selain menetapkan visi dan misi, Sinode III juga merumuskan dua strategi besar yang menjadi fokus pelaksanaan program pastoral.
Pertama, pemberdayaan petugas pastoral, baik mereka yang tertahbis—uskup, imam, dan diakon—maupun kaum awam yang terlibat dalam pelayanan Gereja.
Kedua, pemberdayaan komunitas basis, baik komunitas teritorial maupun kategorial, sehingga menjadi pusat pertumbuhan iman, persekutuan, pelayanan, dan kesaksian umat di tingkat paling dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Nilai-Nilai Dasar Gereja Keuskupan Sibolga
Seluruh visi, misi, dan strategi pastoral tersebut berakar pada sepuluh nilai yang akan menjadi pedoman kehidupan Gereja Keuskupan Sibolga, yaitu:
- Persekutuan
- Belas Kasih
- Solidaritas
- Subsidiaritas
- Kebenaran
- Keadilan
- Ketekunan
- Keberanian
- Tanggung Jawab
- Kesetaraan
Nilai-nilai ini diharapkan tidak hanya menjadi prinsip dalam penyusunan program kerja, tetapi juga menjadi budaya hidup seluruh umat dan pelayan pastoral di Keuskupan Sibolga.
Gereja Sinodal yang Terus Bertumbuh
Visi dan misi hasil Sinode III menunjukkan bahwa Keuskupan Sibolga ingin menjadi Gereja yang semakin sinodal—Gereja yang berjalan bersama, saling mendengarkan, dan bersama-sama mencari kehendak Allah.
Dengan menempatkan iman sebagai akar, persekutuan sebagai cara hidup, dan kesaksian sebagai buah pelayanan, Keuskupan Sibolga menegaskan komitmennya untuk menghadirkan Gereja yang tidak hanya kuat secara internal, tetapi juga relevan dan berdampak bagi masyarakat.
Melalui arah pastoral lima tahun ini, Gereja Keuskupan Sibolga diharapkan semakin mampu menjadi tanda kasih Allah di tengah keberagaman masyarakat pantai barat Sumatera dan Kepulauan Nias, sekaligus menghadirkan harapan bagi mereka yang paling membutuhkan.







